Kebun Binatang : Sebuah Solusi Atau Bentuk Destruksi?

Ditulis oleh Maria Angelica Christy Aka
Ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan KOPHI DIY

Di dalam tulisannya berjudul A Challenge to the Environmental Movement, Lewis (1990) mengatakan bahwa manusia adalah makhluk paling unik di seluruh semesta karena perilakunya yang tidak dapat ditebak. Oleh karena itu, manusia paling berpotensi untuk melahirkan suatu kebaruan atau novelty. Tulisan tersebut kemudian memandang bahwasanya manusia sebagai masing-masing individu harus dijaga eksistensinya karena siapa tahu dapat menjadi world-saving scientists di generasi mendatang. Namun yang tidak ia jelaskan lebih lanjut yaitu mengenai peran manusia sendiri yang pada akhirnya justru menekan dan merusak alam: “human beings are the dimension of the Earth process designed to produce novelty. Oppression destroys it” (Lewis, 1990).

Jumlah populasi manusia di bumi mencapai di angka 7.4 miliar pada akhir tahun 2016 lalu. Senada dengan teori Thomas Malthus yang membandingkan pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan pangan melalui paradigma matematika, pertumbuhan penduduk tetap akan mengikuti deret ukur yang akan selalu meningkat setiap tahunnya. Sayangnya, tidak seperti ketersediaan pangan, ruang tinggal di bumi tidak akan ikut bertambah. Tentu menjadi pengecualian apabila dilakukan okupasi maupun land clearing untuk mendukung kebutuhan manusia. Lebih dari tujuh miliar orang harus mencukupi dan dicukupi kebutuhan hidupnya dengan bahan pangan dan sumber daya, namun pertanian dan pertambangan memakan lahan. Human greed yang harus dipenuhi akibat banyaknya kepentingan dan mengakarnya egois-antroposentris hanya akan berdampak pada ketidakseimbangan alam. Alih fungsi lahan hutan, penggunaan bahan bakar fosil, pembuangan sampah plastik di laut, dan berbagai macam dosa lainnya terus dilakukan demi memuaskan kerakusan sepihak manusia saja. Akibatnya, tumbuhan dan satwa liar harus kalah dan kehilangan habitat aslinya. Dengan hilangnya ruang hidup, binatang ikut menghilang (Röhrlich & Kostermans, 2015).

Dengan menyempitnya ruang hidup satwa liar, manusia kemudian mengenalkan sebuah sistem baru dengan kebun binatang. Kebun binatang sendiri pada awalnya dibuat sebagai sebuah simbol dan pertunjukan kuasa dari kaum bangsawan ribuan tahun yang lalu, kemudian fungsinya baru berubah ketika memasuki abad ke-21 untuk mengkonservasi satwa yang menjadi korban atas kepentingan material manusia (Röhrlich & Kostermans, 2015). Masalahnya, benarkah kebun binatang menjadi satu-satunya solusi untuk melestarikan keanekaragaman satwa? Ataukah lagi-lagi hanya menjadi kedok atas kebutuhan manusia yang ingin terus mengembangkan pengetahuannya? Atau bahkan untuk melanggengkan perputaran modal dan kuasa? Semoga saja, kesimpulan yang akan didapatkan nanti hanya mengerucut pada jawaban pertama saja. Apapun itu, semoga dengan tulisan ini kita jadi mau berpikir ulang dan merefleksikan kembali terhadap lingkungan sekitar kita. Sudahkah kita adil bahkan sejak dalam pikiran?

Semoga masih segar dalam benak kita terkait dengan fakta-fakta menyedihkan yang menyeruak dalam media massa mengenai seorang remaja yang memberikan beralkohol ke sejumlah satwa di Taman Safari (Priatmojo & AR, 2017), beruang madu yang kurus dan terlihat kelaparan di Kebun Binatang Bandung (bbc, 2017), kemudian kematian dari beberapa jumlah satwa di Kebun Binatang Surabaya yang akhirnya dijuluki “Zoo of Death” di kalangan masyarakat internasional dan pihak KBS akhirnya justru memenjarakan aktivis hak binatang, SIngky Soewardji (bbc, 2016), dan masih banyak lagi kisah pilu dari binatang yang kemudian tidak terjamin hak hidup dan kesejahteraannya. Kawasan ekosistem alam yang sudah berubah fungsi alamiahnya dan dirusak oleh manusia telah menjajah kehidupan satwa liar, sehingga opsi yang tersedia saat ini akhirnya tinggal memindahkan satwa-satwa tersebut dalam sebuah kandang besar yang coba disesuaikan dengan habitat aslinya bernama kebun binatang. Namun, sudahkah kebun binatang menjalankan fungsinya untuk perlindungan dan demi konservasi satwa liar tersebut?

Apalagi, misalkan, dengan diterapkannya tarif masuk ke tiap-tiap kebun binatang, yang juga akan mengalami kenaikan harga pada hari libur, kemudian dikalikan dengan ribuan pengunjung sudah akan menghasilkan keuntungan sendiri bagi pihak pengelola kebun binatang, belum ditambah dengan berbagai pemasukan lainnya. Sayangnya, hal ini tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan terhadap seluruh satwa yang ada dalam kawasan kebun binatang tersebut. Kemudian, di satu sisi, kebun binatang juga seakan menjadi sebuah “pasar” yang valuable yang cukup menarik minat politisi maupun pengusaha untuk terjun masuk menjadi dewan pengurus di dalamnya. Baru-baru ini, misalkan, adik dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang melamar gubernur terpilih Anies Baswedan untuk menjadi dewan pengawas di Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Contoh selanjutnya yaitu dengan ambisi dari tiga dewan pengurus TMR terakhir yang berambisi untuk melampaui batas sekadar objek wisata nasional untuk dikembangkan menjadi level internasional setingkat dengan kebun binatang di Singapura dan Australia. Yang ingin coba saya tunjukkan adalah banyak aspek yang masuk ketika membicarakan soal kebun binatang dan topik yang akan dibahas bisa sangat merambah ke ranah lain seperti politik, ekonomi, budaya, hubungan diplomasi, dan lain-lain, yang tidak akan dapat dibahas dalam tulisan singkat ini.

Maka dari itu, benarkah kebun binatang merupakan tempat pertolongan terakhir untuk dapat menjaga binatang pada masa yang lebih baik? Atau justru para kritisi benar, yakni bahwasanya pemeliharaan dalam kandang adalah bentuk dari penyiksaan binatang itu sendiri (Röhrlich & Kostermans, 2015). Jangan sampai kita menjadi wagu dengan menutup segala kemungkinan dan risiko yang ada dengan eksistensi kebun binatang, namun sebaliknya sudahkah kita memberi atau menyisakan ruang bagi makhluk hidup lain agar mereka tetap dapat mempertahankan hidupnya? Sudahkah kita melepas segala pikiran bahwa bumi berotasi pada manusia dan oleh karenanya kita dapat menguasai seluruh isi bumi dengan segala kepentingan dan kerakusan yang berujung pada ketidakseimbangan alam? Semoga kita semua masih mau terbuka dan berkaca terhadap apa yang telah kita perbuat sebagai manusia. Dan terakhir, untuk kesimbangan alam di seluruh muka Ibu Bumi, selamat hari konservasi satwa liar!

DAFTAR PUSTAKA

bbc, 2016. BBC Indonesia. [Online]
Available at: www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/09/160908_indonesia_sidang_kbs_singky [Accessed 3 December 2017].

bbc, 2017. BBC Indonesia. [Online]
Available at: www.bbc.com/indonesia/indonesia-38709729#orb-banner [Accessed 3 December 2017].

Lewis, V., 1990. A Challange to the Environmental Movement. Poverty & the Environment, 1(1), pp. 4, 19.

Priatmojo, D. & AR, M., 2017. viva. [Online]
Available at: viva.co.id/berita/nasional/977957-taman-safari-laporkan-kasus-satwa-dicekoki-miras-ke-polisi [Accessed 3 December 2017].

Röhrlich, D. & Kostermans, D., 2015. DW: Made for Minds. [Online]
Available at: http://www.dw.com/id/kebun-binatang-tempat-memelihara-atau-menyiksa/a-16216565 [Accessed 1 December 2017].