[OPINI] PERAN BANK DUNIA DALAM MASALAH LINGKUNGAN

Emmy Yuniarti Rusadi
Litbang Eksternal KOPHI Yogyakarta periode tahun 2012
emmy.yuniarti.rusadi@gmail.com

Apa mau dikata, berbicara soal lingkungan, harus berbicara soal sistem pembangunan. Kebanyakan Negara berkembang mengandalkan biaya pembangunan pada lembaga internasional, yang akan kita sorot tajam adalah Bank Dunia (World Bank). Perbincangan kali ini terinspirasi dari buku“Menggadaikan Bumi: Bank Dunia, Pemiskinan Lingkungan, dan Krisis Pembangunan” karya Bruce Rich cetakan INFID 1999 yang sangat membuka pandangan tentang bagaimana suatu bangsa harus cerdas mengambil langkah pembangunan agar tidak merusak.

Bagian 5 tentang kelompok-kelompok hijau internasional yang menyerang ide-ide pembangunan yang ditawarkan Bank Dunia. Negara-negara penerima pinjaman seperti digerakkan untuk mengejar devisa, mesin-mesin yang berorientasi ekspor, bahkan sering merusak kebutuhan, social dan lingkungan dalam negeri dalam jangka panjang. Ada pernyataan bohong (ditulis di halaman 150) yang dilontarkan mantan pemimpin Bank Dunia sebagai berikut:

‘Selama satu dekade ini, sebagai bagian dari evaluasi proyek, Bank Dunia mensyaratkan agar setiap proyek yang diperiksa menampakkan tidak ada masalah kesehatan dan lingkungan yang serius. Dan, dengan rasa bangga, saya katakan bahwa semua itu bisa terjadi karena kita melakukan tindakan-tindakan perlindungan pada seluruh proyek yang kita biayai sejak dekade yang silam (A.W.Clausen, November 12, 1981)

Kelompok-kelompok di Washington seperti Natural Resource Defence Council, Environmental Policy Institute, dan National Wildlife Federationbahkan mengritik bahwa kebohongan Clausen semakin terbukti dengan penyelidikan yang mereka lakukan terhadap tubuh Bank Dunia. Fakta mengejutkan bahwa hanya terdapat 6 orang staf yang bekerja untuk Kantor Urusan Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan yang diklaim Clusen bertugas memeriksa setiap proyek Bank Dunia. Coba bayangkan saja sekarang, jumlah seluruh staf Bank Dunia adalah 6000 orang, dimana 3.500 terbilang professional. Perbandingan yang tidak logis. Pun ternyata tugas kantor ini ada pada bagian akhir sebelum proposal investasi disetujui dan dijalankan di Negara peminjam hutang. Proposal investasi memakan waktu dua tahun dari awal kedatangnnya hingga diteliti. Fakta lain, tiga dari enam staf Kantor Urusan Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan tersebut sering ditugaskan riset  dan kerja penelitian yang tidak jelas. Padahal beban tugas itu sudah dihapus pada pertengahan decade 1980-an (halaman 151).

Praktis, tersisa tiga staf yang harus mengevaluasi 3.000 pemberian pinjaman baru yang bernilai sekitar 12 miliar dolar AS per tahun. Lagi-lagi, haya satu yang dibebani tugas memeriksa masalah energy, transportasi, dan pertanian yang berkaitan langsng dengan lingkungan! Ini masih belum membuat Anda terkejut? Ok, ada lagi. Rata-rata laporan yang masuk pada staf tersebut sudah masuk pada tahap penilaian atau tahap akhir. Jika tidak setuju, berarti mengulang hampir dua tahun proses, sehingga kantor lingkungan terpaksa menerima kondisi birokratis yang menyudutkan ini.

Mengetahui fakta ini tentu kemudian dunia bereaksi. Forum internasional diadaan melibatkan senator, menteri-menteri keuangan, menteri luar negeri, dan tentunya tokoh lingkungan hidup dunia.

Laporan internasional yang Bank Dunia paparkan dinilai ambigu, tidak jelas, dan membingungkan, sebagaimana komentar SenatorEranest Gruening pada sidang Kongres. Bahayanya, para kaum akademisi dan periset juga sudah masuk dalam jebakan Bank Dunia dengan ketergantungan biaya riset yang ditawarkan untuk riset-riset pembangunan internasional. Ahli ekonomi Belanda Aart Van de Laar, penulis ”The World Bank and the Poor” , mengatakan bahwa system patronase yang dipraktikkan Bank Dunia menjadikan dewan-dewan penelitian dan ahli pembangunan internasional menjadi orang terakhir yang mereformasi “gereja” (baca: Bank Dunia dan lembaga donor lainnya), yang selama ini mengabulkan segala permintaan mereka (halaman 153 paragraf terakhir dalam poin “Pertanyaan dan Keraguan”).

Dengan melihat fakta-fakta tersebut, apa hikmah moral bagi pemuda? Bagi aktivis lingkungan?

1.    Bukalah wawasan dan idealisme berjuang. Hambatan dana seringkali menjadi musuh dalam selimut jika bertemu dengan lembaga pembangunan internasional seperti Bank Dunia.

2.    Tidak semua riset-riset prestisius itu membawa manfaat positif bagi rakyat kita, rakyat Negara berkembang, rakyat Indonesia yang juga masuk dalam jajaran itu.Kita patut meniru transparansi yang lembaga lingkungan internasional kemukakan mengenai fakta Bank Dunia dalam kerusakan lingkungan yang terjadi di Negara-negara berkembang. Sekalipun lembaga lingkungan internasional itu berasal dari negara superpower yang dicitrakan selalu mendukung aksi pembangunan Bank Dunia.

3.    Akankah ini tidak membangkitkan darah muda kalian, pembaca yang budiman, utuk turut berjuang membuka wawasan publik tentang nasib lingkungan kita ke depan. Apapun latar belakangmu, kitalah pemuda yang menjadi garda terdepan. Tebarkan semangat berani itu dari sekarang. Umurmu, investasimu, ilmu yang bermanfaat.

Demikian, semoga dapat menjadi pendidih semangat. Kritik dan saran selalu dinanti. Terimakasih

dipost ulang dari http://kophiyogya-blog.tumblr.com pada 20 Januari 2012