[OPINI] GARDEN CITY BAGI YOGYAKARTA

oleh Divisi Penelitian dan Pengembangan KOPHI Yogyakarta periode 2015 – 2016

Pada abad 20 terjadi gerakan reformasi perkotaan sebagai reaksi tumbuhnya kota – kota industri, kota dianggap gagal dengan makin buruknya kondisi kesehatan dan lingkungan. Kota didominasi oleh pekerja dengan kepadatan tinggi dengan kualitas sanitasi yang buruk.  Sejak saat itu Inggris mulai memberlakukan aturan secara ketat  tentang penggunaan tanah dan tinggi bangunan. Aturan inilah yang kemudian dianut dalam perijinan bangunan (IMB) di Indonesia. Tak lain tujuannya adalah menjaga siklus kehidupan kota agar tetap berkelanjutan baik secara ekonomi maupun alam.

Masih pada abad yang sama, kemudian muncul gagasan Garden City dari Ebenezer Howard untuk memerangi kepadatan kota dan menyerukan manusia untuk kembali pada alam. Kota ini subsisten dengan pusat kota yang dikelilingi taman.  Syaratnya lahan taman harus memiliki luas lima kali dari lahan terbangun. Tapi sayangnya, konsep ini kurang realistis  jika diterapkan di negara berkembang. Hal ini karena perkembangan kota sangat sensitif terhadap kekuatan ekonomi, sosial dan politik. Tentu saja faktor ekonomi menjadi daya pikat utama. Kota adalah simpul dari hampir semua kegiatan ekonomi dan pemerintahan. Setiap pembangunan entah itu hotel, universitas, maupun pabrik menjadi magnet bagi pembangunan baru disekitarnya. Tingkat persaingan di kota  menyebabkan masyarakat asli  yang dulunya petani akhirnya “tersingkir”, memilih menjual tanahnya dan menempati lahan pinggiran kota. Adalah perihal yang jarang sekaligus menggelikan mengharapkan petani menebar benih di pusat perkotaan sekarang ini. Oleh karena itu, ruang terbuka hijau perkotaan hanya bertumpu pada penyediaan taman dan halaman rumah yang berharap dipenuhi rumput oleh pemilikinya. Idealisme  30 % persen ruang terbuka hijau untuk menjaga suhu dan menyeimbangkan siklus air di perkotaan sulit diwujudkan. Terlebih “iming – iming” investasi dan keuntungan pajak  yang ditarik dari pembangunan gedung- gedung baru lebih menggiurkan daripada membangun taman yang mengeluarkan biaya.

 Lewis Mumford membagi tahap  – tahap perkembangan perkotaan sampai kepada tahap kehancurannya.  Dimulai dari Neopilis, Polis, Metropolis, Megapolis, Tiranopolis, dan Nekropolis. Dalam hal ini Neopolis diartikan kota yang baru tumbuh; Polis sebagai pusat pemerintahan; Metropolis sebagai kota induk;  Megapolis sebagai kota yang amat besar; Tiranopolis sebagai kota yang mengalami kemerosotan; Nekropolis sebagai kota yang sudah mengalami kehancuran. Siklus tersebut paling cepat dapat kita  temui pada  kota yang mempunyai basis ekonomi di bidang pertambangan, jika tambang sudah habis maka pekerja dan penduduknya akan pindah ke kota lain. Karena pada tahap ini kota sudah tidak sanggup lagi menawarkan kesejahteraan ekonomi bagi penduduknya. Seperti yang dialami Pennsylvania, Amerika Serikat.

 Lalu apakah saya bermaksud menebar rasa pesismis dengan pernyataan diatas bahwa semakin berkembang kota, semakin dekat menuju kehancuran. Tentu tidak, kota adalah perihal manusia, baik atau buruknya kualitas kota tergantung perilaku manusia yang tinggal dan kebijakan pengendalian didalamnya. Bagaimana membangun hubungan dengan alam.  Ramalan mumford mungkin ada benarnya jika kota terus tumbuh tanpa pengendalian. Hanya saja definisi kehancuran dapat diperkecil yaitu berupa kemerosotan kualitas lingkungan.

 Satu lagi yang lupa saya cantumkan. Salah satu kawasan di Yogyakarta sebenarnya mewarisi konsep Garden City yang didesain oleh Ebenezer Howard yang konon tidak realistis diterapkan di negara berkembang. Meskipun cakupannya hanya sebatas kawasan dan terdapat sedikit perubahah tentang luasan lahan hijau, tapi tetap saja menganut Garden City.  Tepatnya di Kawasan Kota Baru.  Kamu bisa jalan – jalan disana dan membandingkan dengan kawasan lain. Gunakan seluruh inderamu untuk merasakan sense– nya. Keteduhan, pedestrian, ikilim mikro, pedagang kaki lima dan visual penataan bangunan.

Daftar Sumber Gambar
http://www.pwpla.com/sites/pwp/images/6261/pNishiHarima_10022.jpg

Daftar Sumber Pustaka
Mumford, Lewis. The Culture of City. Harcourt Brace Jovanovich Publishers. New York: 1938

Diposting ulang dari http://kophiyogya.org/garden-city-bagi-yogyakarta/ tertanggal 23 Oktober 2016