[Opini] Paris Agreement, Kenaikan Suhu, dan Sumber Energi Dunia

Ditulis oleh Divisi Penelitian dan Pengembangan KOPHI Yogyakarta periode 2015 – 2016

Akhir tahun lalu telah disepakati paris agreement pada COP21 oleh 195 perwakilan negara di dunia tentang lingkungan. Hal-hal penting yang dihasilkan dalam kesepakatan paris agreement adalah upaya menekan kenaikan suhu global dibawah 1,5 derjat celsius, mengurangi emisi gas rumah kaca, pembangunan keberlanjutan dan pemberantasan kemiskinan, dan pendanaan 100 milliar dolar AS per tahun untuk menekan perubahan iklim.. semoga ini tidak terlalu terlambat untuk membahas tentang kesepakatan paris itu. Yang menarik perhatian adalah tentang menjaga kenaikan suhu bumi dibawah 3 derajat celsius. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kenaikan suhu global diantaranya adalah polusi udara, lubang ozon, efek rumah kaca dan lain-lainnya.

Mengenai kenaikan suhu global, kita tidak bisa pura-pura tidak tahu bahwa sektor energi memiliki peran yang signifikan terhadap menaiknya suhu bumi akhir-akhir ini. Seperti kita ketahui bahwa indonesia dan masih banyak negara yang masih mengandalkan pasokan energi listrik mereka dari energi berbasis fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas). Dalam proses pembuatannya, energi ini menghasilkan limbah yang dibuang ke udara. salah satunya  yaitu gas metan, senyawa yang memiliki peran sangat besar terhadap efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya kenaikan suhu global.

Terus, apa yang harus kita lakukan? Menekan pemerintah Indonesia dan dunia untuk sesegera mungkin berpindah ke energi terbarukan dan meninggalkan energi pembakaran fosil. Banyak sumber mengatakan indonesia sangat kaya akan sumber energi baik di darat, laut, bahkan udara. Bahkan untuk energi nuklir pun negara kita sebenarnya sudah cukup matang untuk memiliki dan menggunakannya. Entah apa yang menyebabkan perkembangan sumber energi di negeri kita ini selalu berputar di minyak dan batu bara tanpa mengandalkan sumber lain yang sudah dianugerahkan secara besar.

Tampaknya sangat sulit bagi kita untuk menggunakan sumber energi lain sebagai pengganti minyak bumi dan batu bara. Panas matahari dan angin hingga ombak pernah diusulkan sebagai energi alternatif, namun fakta sampai sekarang penggunaan energi tersebut masih tidak merata hanya karena energi yang dihasilkan tidak terlalu besar sedangkan harga bahan baku sebagai penangkap energinya cenderung mahal. Sebagai informasi saat ini pembangkit listrik tenaga surya terbesar yang ada di Indonesia berada di Bali dengan daya 2×1 MW.

Untuk informasi, energi yang saat ini kita gunakan seperti energi fossil (minyak bumi, batu bara, dan gas) dikutip dari majalah elektronik The Guardian dan majalah sains nature penelitian mengungkapkan bahwa gas metana yang dihasilkan dari pembakaran fossil ternyata lebih besar 20-60% dari yang telah diperkirakan selama ini. gas metana saya rasa kita semua sudah cukup familiar dengan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Dalam jumlah yang kecil gas metana memiliki dampak negatif yang lebih besar daripada gas CO2 terhadap efek rumah kaca, yang berarti gas metana dapat disebut sebagai salah satu penyebab utama terjadinya efek rumah kaca yang mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu global.

Oke, anggaplah kita setuju dengan alasan efesiensi biaya sehingga sumber energi tenaga surya, air, dan angin tidak bisa diterapkan sebagai energi pengganti minyak bumi dan batu bara. Lantas, bagaimana dengan nuklir? Sebuah sumber energi yang mampu menghasilkan energi sangat besar dengan jangka waktu yang sangat lama. Daya yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang direncanakan berada di Bangka selatan dan Bangka Barat diperkirakan dapat menghasilkan listrik sebesar 10 gigawatt (GW)

Masyarakat indonesia dan kita juga sebagai komunitas pemerhati lingkungan masih memandang energi nuklir dari sisi negatif yang ditimbulkan tanpa melihat bagian positifnya. Bahaya nuklir yang terjadi di beberapa negara memberikan stigma yang buruk terhadap energi nuklir. Kekhawatiran kebocoran reaktor dan dampak radiasi menjadi alasan paling terdepan untuk menolak adanya sumber energi berbahan nuklir. Secara umum, apapun energinya pasti akan menghasilkan hal negatif maupun positif.

Saat ini energi nuklir masih dianggap sebagai energi dengan efesiensi tertinggi karena menghasilkan energi yang sangat besar dengan jangka waktu yang lama. Secara perhitungan ekonomi sederhana, biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan PLTN memang tidak murah namun dengan jangka waktu yang panjang dan energi yang dihasilkan maka disimpulkan bahwa energi nuklir adalah energi yang murah. Selain itu PLTN generasi IV dapat dibangun dengan harga yang lebih murah, tingkat keamanan lebih tinggi, dan menghasilkan limbah yang sangat rendah.

Well, seperti yang sudah tertulis di atas apapun energi yang digunakan pasti akan memiliki efek positif dan negatif terhadap makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Pemilihan jenis energi sangat berpengaruh terhadap terjadinya kenaikan suhu di bumi ini. Banyak sumber energi ramah lingkungan tersedia, hanya saja pertanyaan yang sering terucap adalah bukan tentang “Bisakah Kita” tapi “Maukah Kita”.

Sources :
Theguardian.com
Nature.com
Wikipedia.

Sumber Gambar : 
http://delog.org/web/wp-content/uploads/2015/03/COP21_0-680×384.png