Potensi Energi Bersih di Yogyakarta

 Ditulis oleh Winwibisma Putra Anggara
Divisi Penelitian dan Pengembangan

 

Manusia memiliki kebutuhan dasar yaitu sandang, pangan dan papan. selain itu yang tidak kalah pentingnya yaitu energi. Dari keempat kebututuhan dasar tersebut, energi belum menjangkau semua manusia terutama yang berada di pelosok. Ke-tidak-tersediaan energi di pelosok bukan karena tidak ada potensi tetapi karena selama ini yang digunakan adalah energi yang berasal dari fosil. Hal ini bisa menjadi masalah karena salah satu kebutuhan dasar manusia adalah energi.

Masalah bertambah runyam karena selain ke-tidak-tersediaan energi bagi seluruh umat manusia, energi konvensional saat ini juga tidak ramah lingkungan dan semakin merusak bumi jika digunakan terus menerus. Untuk itu perlu dicari energi “bersih” yang mampu memenuhi kebutuhan generasi kini dan mendatang tanpa merusak lingkungan.

Di Indonesia sendiri penggunaan energi untuk kebutuhan listrik (2014) paling banyak masih menggunakan batu bara yaitu 52,8% kemudian disusul gas 24,2% dan BBM 11,7%. Energi yang dipakai tersebut tidak ramah lingkungan karena mengeluarkan karbon bebas yang pada akhirnya berdampak pada perubahan iklim.

Ada beberapa potensi energi baru terbarukan di Indonesia yang dapat dilihat di tabel berikut ini.

Pada tabel tersebut dapat diketahui bahwa perbandingan antara kapasitas terpasang dengan sumber daya yang tersedia masih jauh dari optimal. Ini menjadi tantangan bagi generasi muda Indonesia untuk mengolah anugerah Tuhan yang sudah tersaji di bumi nusantara ini.

 Potensi energi bersih di Yogyakarta

Potensi energi bersih tersebut tersebar di seluruh Indonesia. Di D.I.Yogyakarta ada beberapa tempat dimana potensi energi baru dan terbarukan sudah digunakan untuk kebutuhan listrik dan lainnya.

• Energi Geothermal

Indonesia mempunyai potensi energi geothermal 30% dari seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh letak geografis indonesia yang berada tepat disebelah pertemuan antara lempeng asia dan lempeng indo-australia dan lempeng asia & lempeng pasifik (daerah timur Indonesia). Di yogyakarta sendiri di daerah Parangtritis terdapat salah satu manifestasi energi panas bumi yang berupa air panas.

Karena suhu reservoir dibawah sulit digunakan untuk pembangkit listrik, maka penggunaannya selama ini hanya untuk pemandian air panas. Menuruti penelitian terbaru penggunaan energi geothermal entalpi rendah seperti di parangtriris selain untuk pemandian dan spa juga dapat digunakan untuk pengeriangan ikan maupun budidaya jamur dan sebagainya. Suatu saat harusnya muncul penemuan baru untuk memanfaatkan potensi geothermal entalpi rendah untuk pembangkit listrik.

• Energi Surya

Energi surya punya potensi juga di Yogyakarta. Hasil studi menunjukkan potensi energi surya di kawasan Yogyakarta agak tinggi, yaitu berkisar 3,88 – 4,51 kWh/m2/hari dan rata-rata tahunan sebesar 4,18 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 8%. Sedangkan lama penyinaran matahari berkisar 39,01 – 61,11% dan rata-rata tahunan 50,10%. Menurut kriteria kebeningan atmosfer Liu, langit di kawasan Yogyakarta pada umumnya berawan sebagian selama periode 1994-2003 dengan persentase kejadian 93%. Kondisi langit cerah (clear sky) di kawasan Yogyakarta tergolong jarang, hanya 7% kejadiannya. Berdasarkan studi penjajagan dapat disimpulkan bahwa kawasan Yogyakarta lebih efektif untuk aplikasi listrik karena lebih sering menerima komponen radiasi langsung, namun dengan durasi yang pendek. (Yusuf Suryo Utomo, 2014)

• Energi Angin

Wilayah selatan Yogyakarta yaitu bagian pesisir selain memiliki intensitas sinar surya yang tinggi juga memiliki potensi energi berupa angin laut dan angin darat yang memadai. Untuk itu di daerah Pantai Baru, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Kabupaten Bantul berjejer rapi kincir angin sebagai penggerak turbin untuk pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH) yaitu gabungan antara tenaga angin dan tenaga surya.

Proyek yang dimulai tahun 2010 tersebut sudah bisa menghidupi kawasan pesisir dengan menyuplai 70% kebutuhan energi listrik untuk daerah pesisir, sedangkan 30%nya masih disuplai PLN. Pada PLTH ini paling tidak terdapat 33 turbin angin dengan berbagai kapasitas dan terdapat 175 panel surya untuk memenuhi kebutuhan. PLTH ini menghasilkan 87 kilo Watt Sedangkan energi yang tersimpan yaitu 4045 Ah. Adapaun energi yang diguanakan ketika siang dan malam sebanyak 24 kilo Watt. 

Energi tersebut didistribusikan untuk kawasan pesisir yang dapat berguna untuk keperluan penerangan jalan, kebutuhan listrik warung-warung kuliner di pinggir pantai, pompa air, dan pembuatan balok es sebanyak 1.000 kilogram es balok per hari untuk pengawetan ikan, mengisi ulang aki nelayan untuk digunakan melaut dan memompa air sumur renteng untuk kebutuhan petani di pesisir pantai.

Tentunya masih sangat banyak potensi energi baru terbarukan yang ada di Yogyakarta yang masih perlu dieksplorasi. Penggunaan energi baru terbarukan selain murah dan tidak habis juga bersih, ramah lingkungan, dan mudah diakses. Keterbatasan teknologi untuk mengolahnya seharusnya menjadi pelecut semangat pemuda Indonesia untuk menciptakan teknologi pengolahnya.

*****

 

Daftar Pustaka:

Kementerian ESDM. Solusi Listrik Off-Grid Berbasis ENergi Baru Terbarukan di Indonesia: Kerangka Regulasi dan Program. Jakarta. 2016.

Utomo, Yusuf Suryo. Study Penjajagan Potensi Energi Surya di Kawasan Yogyakarta. Diakses melalui: https://www.researchgate.net/publication/313860250_Studi_Penjajagan_Potensi_Energi_Surya_di_kawasan_Yogyakarta. Tanggal 12 Februari 2018.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/12/kisah-sukses-desa-wisata-berbasis-energi-terbarukan-di-pesisir-yogyakarta. Diakses tanggal 12 Februari 2018.

GNESD. Clean Energy for The Urban Poor: an Urgent Issue. 2008.