Hutan Pinus Mangunan: Wisata Pemadatan

Ditulis oleh : 
Atika Cahya Pratiw, Wakadiv Litbang Kophi Yogyakarta.

Yogyakarta. Provinsi yang tak pernah sepi oleh wisatawan. Sudah sejak lama provinsi ini dikenal sebagai tujuan wisata, mulai dari hiruk pikuk Malioboro, indahnya pantai di Gunung Kidul, tenangnya bukit-bukit di Kulonprogo, hingga uniknya berbagai kerajinan di Bantul. Setiap tahunnya, selalu ada berbagai objek wisata baru dibuka di provinsi gudeg ini. Beberapa tahun terakhir, di bagian selatan Kabupaten Bantul, nama Hutan Pinus Mangunan mulai dikenal oleh masyarakat luas. Berdasarkan perhitungan tahun 2015 hingga tahun 2017, jumlah pengunjung Hutan Pinus Mangunan ditaksir sudah mencapai 1,5 juta pengunjung per tahun.[i] Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya, ditambah, objek ini pernah dikunjungi oleh mantan presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, hal itu tentu membuat Hutan Pinus Mangunan menjadi objek yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pemerintah daerah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pun menetapkan Hutan Pinus Mangunan sebagai objek wisata unggulan Yogyakarta.

Peruntukan kawasan Hutan Pinus Mangunan sebagai wisata tentu mengundang berbagai polemik. Adanya Hutan Pinus Mangunan menjadikan masyarakat awam lebih mengenal tentang hutan dan mampu membantu penyadaran masyarakat akan pentingnya hutan yang lestari. Masyarakat sekitar hutan pun mengaku bahwa ekonomi mereka sangat terbantu dengan adanya hutan wisata pinus ini dan pertambahan pengunjung yang terjadi di dalamnya. Dibukanya kawasan hutan pinus sebagai objek wisata memicu masyarakat sekitar hutan untuk bergotong royong mengelola hutan pinus dan fasilitas pendukung wisata lainnya. Sebelum dijadikan objek wisata, masyarakat memang sudah biasa keluar masuk kawasan hutan pinus untuk menyadap getah pinus sebagai pencaharian mereka. Akan tetapi pendapatan yang didapat dari kegiatan penyadapan getah pinus pun dianggap sangat minim untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keadaan pun mulai berubah sejak dibukanya hutan pinus sebagai objek wisata. Saat ini Hutan Pinus Mangunan berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan dan berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah pemerintah (PAD) setempat sebesar Rp700 juta per tahun.[ii]

Tak hanya selaras dengan pendapatan masyarakat maupun daerah, pertambahan pengunjung Hutan Pinus Mangunan juga selaras dengan pemadatan tanah yang terjadi di kawasan hutan tersebut. Menurut SK Menteri Kehutanan Nomor 171 Tahun 2000, Hutan Pinus Mangunan merupakan hutan lindung yang dikelola oleh RPH Mangunan di bawah naungan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi DI Yogyakarta.[iii] Hakekatnya, hutan lidung memiliki fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah.[iv] Penetapan Hutan Pinus Mangunan sebagai hutan lindung pun bukan guyonan semata, namun karena kondisi topografi Hutan Pinus Mangunan cocok untuk ditetapkan sebagai hutan lindung.

Akan tetapi, saat ini Hutan Pinus Mangunan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Peruntukannya sebagai objek wisata terus menambah jumlah manusia yang menginjakkan kakinya di kawasan tesebut. Hingga akhirnya, pemadatan tanah di Hutan Pinus Mangunan pun terjadi. Pemadatan tanah menyebabkan tanah mudah jenuh air sehingga air yang mengalir diatas tanah akibat hujan tidak mampu diserap secara maksimal. Keadaan itu dapat memicu bahaya banjir maupun longsor. Terbukti pada tahun 2018, dirilis enam titik selfie yang dianggap sebagai lokasi rawan longsor di Desa Mangunan.[v]Pada tahun sebelumnya, jalan menuju kawasan Hutan Pinus Mangunan pun terkena longsor setelah sebelumnya kawasan tersebut diguyur hujan deras.[vi]

Selain pemicu longsor dan banjir, pemadatan tanah yang disebabkan oleh ledakan pengunjung pemadatan tanah juga berdampak pada pertumbuhan pinus itu sendiri. Air yang tidak mampu diserap oleh tanah umumnya akan terus mengalir di permukaan dan menyapu unsur-unsur makro maupun mikro yang diperlukan oleh tumbuhan. Akar-akar pinus pun akan sulit melakukan penetrasi untuk mencari makan apabila terjadi pemadatan tanah, sehingga pertumbuhan pohon pinus serta anakannya pun akan terhambat.

Peruntukan hutan lindung sebagai lokasi wisata memang tidak menyalahi aturan. Namun alangkah baiknya apabila perubahan fungsi lahan tersebut tetap diiringi oleh aspek-aspek ekologis. Kita sebagai pengunjung pun dapat berperan dalam menjaga ekosistem Hutan Pinus Mangunan. Setidaknya, kita harus membiasakan untuk berjalan pada track yang telah disediakan oleh pengelola supaya tidak mengganggu seluruh siklus yang ada di dalam Hutan Pinus Mangunan. Hal yang sangat membantu dari sisi ekonomi, sebaiknya tetap tidak melupakan sisi ekologisnya sehingga segala hal di dunia ini tetap seimbang.

————————————————————

Daftar Pustaka :

[i] Cyntara, R. (Dec 18, 2017). Wisatawan ke Dlingo Mencapai 1,5 Juta Orang, Apa Dampak untuk Warga Sekitar. Available at http://www.solopos.com/2017/12/18/wisatawan-ke-dlingo-mencapai-15-juta-orang-apa-dampak-untuk-warga-sekitar-877833. Accessed on March 12, 2018.

[ii] Ratnasari, Y. (July 10, 2017). Sempat Dikunjungi Obama, Hutan Pinus Yogya Raup Rp700 Juta. Available at https://tirto.id/sempat-dikunjungi-obama-hutan-pinus-yogya-raup-rp700-juta-csj7. Accessed on March 12, 2018.

[iii] Anonim. (May 8, 2017). Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Dukung Mangunan Jadi Wisata Hutan. https://www.bantulkab.go.id/berita/2351.html. Accessed on March 12, 2018.

[iv] Ginoga, K., M Lugina, D Djaenuddin. (2005). “Kajian Pengelolaan Hutan Lindung”. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi, 2 (2).

[v] Anonim. (Feb 2, 2018). Enam Titik ‘Selfie’ di Desa Mangunan Bantul Rawan Longsor. Available at https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180207132620-269-274528/enam-titik-selfie-di-desa-mangunan-bantul-rawan-longsor. Accessed on March 12, 2018.

[vi] Anonim. (Nov 30, 2017).  Ruas Jalan Mangunan-Dlingo tertimpa Longsoran, Arus lalu lintas terganggu. Available at http://mangunan.bantulkab.go.id/index.php/first/artikel/116. Accessed on March 12, 2018.