Corporate Social Responsibility : Bentuk Tanggung Jawab atau Sarana Pembentuk Citra Perusahaan?

Ditulis oleh : Winda Prastika S

Divisi Penelitian dan Pengembangan Kophi Yogyakarta

Dunia industri berkembang secara pesat seiring dengan perkembangan zaman. Tidak sedikit aktivitas industri yang ternyata turut menyumbang permasalahan lingkungan dalam jumlah yang besar. Berbagai pencemaran dan kerusakan lingkungan diduga disebabkan oleh operasionalisasi mesin dan teknologi yang digunakan perusahaan untuk meraih keuntungan komersial (Dharma, C.A., 2012).  Oleh karena itu, menjadi hal yang wajar apabila masyarakat menuntut agar perusahaan senantiasa memperhatikan dampak sosial maupun lingkungan yang timbul akibat dari aktivitas produksi perusahaan.

Konsep Corporate Social Responsibility atau CSR muncul sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan kepada para stakeholders. Yang dimaksud stakeholders disini adalah masyarakat atau kelompok yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh perusahaan sebagai dampak dari aktivitasnya. The World Business Council for Sustainable Development mendefinisikan CSR sebagai komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan, komunitas lokal, dan komunitas secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan (Anatan, 2010). CSR merupakan wujud partisipasi perusahaan dalam pembangunan berkelanjutan melalui penciptaan keseimbangan antara meraih keuntungan (profit) dan melaksanakan tanggung jawab perusahaan. Dalam hal ini CSR dilaksanakan berdasarkan pendekatan Triple Bottom Line yaitu, profit, people, dan planet. Artinya, aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan tidak boleh merugikan masyarakat dan lingkungan, namun tetap harus menghasilkan profit sebesar-besarnya.

Meskipun CSR lahir sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan, namun pada kenyataannya pelaksanaan program CSR hanyalah sebagai bentuk ‘formalitas’ perusahaan agar dapat beroperasi secara legal. Masih banyak perusahaan yang melaksanakan CSR hanya berdasar pada aspek philanthropy dan charity yang memberikan sumbangan suka rela berupa uang bukan program yang dapat menunjang pembangunan berkelanjutan. Selain itu, CSR juga berperan penting dalam pembentukan citra perusahaan. Melalui program-program dalam CSR, perusahaan akan mendapatkan penilaian yang nantinya akan berpengaruh pada eksistensi perusahaan. Sejak tahun 2002, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah megadakan PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan) dalam bidang pengendalian dampak lingkungan untuk meningkatkan peran perusahaan dalam program pelestarian lingkungan hidup. Kinerja lingkungan perusaan akan diukur dengan menggunakan warna, mulai dari yang terbaik, yaitu emas, hijau, biru, merah, hingga yang terburuk yaitu hitam.

Lebih dari 1000 perusahaan yang telah terdaftar dalam PROPER di tahun 2017. Namun, diberlakukannya PROPER tersebut nyatanya tidak sesuai dengan harapan, terbukti dari masih banyaknya perusahaan di Indonesia yang terdaftar dalam PROPER berada di peringkat terendah atau berada pada level warna hitam. Di tahun 2017 terdapat lebih dari 1000 perusahaan di Indonesia yang berada pada peringkat warna biru, dan terdapat lebih dari 100 perusahaan yang berada pada peringkat warna merah hingga hitam. Hanya terdapat 19 perusahaan yang berhasil meraih PROPER emas. Artinya, masih banyak perusahaan di Indonesia yang tidak memperhatikan lingkungan atau bahkan memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan. Keberadaan PROPER ini seakan menjadi sarana bagi perusahaan untuk berkompetisi untuk meraih citra dan branding yang baik bagi dirinya. Namun pada kenyataannya, perusahaan yang berhasil meraih PROPER emas pun belum sepenuhnya mampu bertanggungjawab pada kondisi lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, PT. Pertamina yang merupakan perusahaan peraih PROPER emas pun mengalami ‘kecelakaan’, yaitu tumpahnya minyak di Teluk Balikpapan. Contoh kasus di atas tentunya bukan merupakan satu-satunya yang terjadi di Indonesia. Penulis menduga masih banyak kasus serupa yang terjadi di perusahaan lain. CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan seharusnya mampu berjalan sesuai tujuannya sebagai sebuah tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya. Kejadian semacam kecelakaan kerja atau kelalaian dalam beraktivitas seharusnya sudah diperhitungkan sejak awal. Maka dari itu, marilah kita tutup tulisan ini dengan sebuah pertanyaan tentang fungsi dari Corporate Social Responsibilityitu sendiri: apakah CSR lahir sebagai bentuk tanggung jawab atau hanya sebagai sarana pembentuk citra perusahaan?

References:

Anatan, L. (2010). Coorporate Social Responsibility (CSR): Tinjauan Teoritis dan Praktik di Indonesia. Jurnal Manajemen Maranatha8(2), pp-66.

Hariati, I., & Rihatiningtyas, Y. W. (2015). Pengaruh Tata Kelola Perusahaan dan Kinerja Lingkungan Terhadap Nilai Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi XVIII Medan, 16-19.

Hidup, K. L. (2016). Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta (ID): Kementerian Lingkungan Hidup.

Rakhiemah, A. N., & Agustia, D. (2009). Pengaruh kinerja lingkungan terhadap corporate social responsibility (CSR) disclosure dan kinerja finansial perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi XII, 4-6.

Wicaksono, S. L., & ROHMAN, A. (2012). FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUHI TERHADAP KINERJA LINGKUNGAN (Studi Pada Perusahaan PROPER Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia) (Doctoral dissertation, Fakultas Ekonomika dan Bisnis).