Sejak awal tahun 1990-an permukaan laut di bumi berangsur-angsur meningkat sekitar 3/32 inci. Suhu di permukaan bumi pun memanas sekitar 1 derajat Celcius, atau 1,8 derajat Fahrenheit, sejak zaman pra-industri dimulai. Lautan es di Arktik telah menurun sekitar 40% sejak pencatatan dimulai pada tahun 1979. Masing-masing dari tiga dekade terakhir telah secara berturut-turut lebih hangat di permukaan bumi daripada dekade sebelumnya sejak tahun 1850.

Meskipun kita sering berbicara tentang ketidakpastian dalam proyeksi iklim di masa depan, ada beberapa hal yang dapat kita yakini. Kita tahu bahwa Bumi akan terus menghangat; kita tahu bahwa dampak buruk dari perubahan iklim dapat menimbulkan bencana yang fatal. Faktor yang tidak proporsional timbul menjadi lebih besar ketika kita pergi ke suhu yang lebih panas dan mengetahui bahwa risiko perubahan yang terjadi tidak dapat diubah dan menyebabkan tingkat kerusakan di bumi; kita tahu bahwa permukaan laut di bumi akan terus meningkat berjalan seiring waktu setelah kita manusia mencoba menstabilkan suhu di permukaan bumi dan bahwa pencairan lapisan es dan gletser tidak dapat terelakan.

Kita juga tahu bahwa pasti akan ada beberapa tingkat fase pada perubahan iklim, apa pun yang berkaitan dengan peningkatan emisi karbon di masa depan, yang mengakumulasikan karbon yang ada di atmosfer tidak dapat dibendung lagi oleh tiga lapisan inti dari atmosfer. Efek rumah kaca sangat berperan pada pengelupasan lapisan atomosfer. Ini berarti bahwa tingkat adaptasi dari segala aspek akan diperlukan untuk apa pun yang kita lakukan untuk mencegahnya tetap berlanjut.

Pemanasan ini bentuk dari meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, bumi, dan lautan. Pemanasan ini diakibatkan oleh peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan. Salah satu dampak dari pemanasan global adalah mencairnya es abadi di kutub. Mencairnya es di kutub ini berakibat pada naiknya permukaan air laut. Muka laut yang menjadi lebih tinggi dapat menenggelamkan pulau-pulau kecil khusunya di Indonesia.

Di pesisir pantai misalnya dalam pertahanan terakhir banjir, harus menrima kenyataan berupa kegagalan, mangrove sebagai pertahanan terakhirnya kalah dengan akar beton dan bangunan yang tampak lebih subur dari tanaman mangrove. Guna mendukung lancarnya sektor pariwisata daerah pesisir namun malah berimbas masalah dikemudian waktu. Jika masih ugal-ugalam menanam beton dalam waktu yang lama serta waktu infrastruktur seperti itu secara bersama-sama berarti investasi di masa depan cenderung sangat sensitif terhadap bagaimana perubahan iklim di masa mendatang. Dua hingga tiga dekade. Kita perlu merencanakan, bagaimana kita dapat melindungi iklim hidup kita, di kota dan pesisir, dan membantu melindungi ekosistem lingkungan alam, karena hampir tidak ada ampun dalam membantu sistem penyembuhan iklim yang tampaknya akan mengurangi efek emisi gas rumah kaca kita.

Di 2005, ada 24 pulau di Indonesia hilang. Dan pada kurun waktu 1947 – 2014, Kepulauan Salomon di Oseana dari 33 pulau yang ada, 5 diantarnya hilang dan 6 hancur. Dan ilmuan memprediksi 4 pulau di Indonesia yang diprediksi hilang ialah Pulau Bali, Pulau Pedang, Pulau Sentut, dan Pulau Kelor. Pada 2015, suhu permukaan bumi melewati ambang 1 derajat Celcius (1,8 derajat Fahrenheit) – setengah jalan ke batas maksimal yaitu 2 derajat Celcius (3,6 derajat Fahrenheit) yang ditetapkan di Paris.

Masa kini dan masa depan tidaklah terlalu jauh dalam rentang waktu iklim, dan kita bisa melukiskan gambaran seperti apa iklim dunia di masa depan dengan tingkat kepastian tertentu. Sebagai contoh, kita tahu bahwa dampak terburuk akan dirasakan oleh masyarakat termiskin di dunia, yang sudah berada di bawah tekanan besar dan memiliki sangat sedikit sumber daya untuk membantu mereka bertahan hidup.

Jadi mari kita coba melakukan perjalanan waktu ke masa depan. Ketika suhu permukaan bumi telah melewati 2 derajat Celcius (3,6 derajat Fahrenheit) di atas apa yang baru saja terjadi seabad sebelumnya, dan pada periode yang sama, permukaan laut global telah naik dengan kaki yang lain.

Lautan es di Arktik sekarang telah menjadi lautan bebas es di musim panas, dan peningkatan substansial dalam suhu lautnya. Populasi mamalia laut, ikan, dan burung berubah, dan populasi asli semakin terganggu oleh kurangnya ketahanan pangan; hilangnya es laut pesisir, kenaikan permukaan laut, dan meningkatnya intensitas cuaca memaksa relokasi beberapa komunitas. Pembukaan Kutub Utara telah membuatnya menjadi rute pengiriman utama untuk perdagangan internasional, dan eksploitasi sumber daya alam Kutub Utara sedang berkembang pesat. Spesies invasif baru, yang dibawa oleh peningkatan aktivitas manusia, mengubah ekosistem alami.

Di seluruh negara di bagian utara, akan terjadi banjir selama musim hujan. Karena intensitas curah hujan harian yang kian meningkat. Mereka yang tinggal di daerah dataran rendah mengalami serangan air laut yang semakin sering selama badai melonjak saat permukaan laut naik. Persediaan air bersih mulai terkontaminasi, lahan pertanian mulai rusak, dan penyakit yang ditularkan melalui air semakin sering terjadi. Migrasi paksa menjadi masalah utama kehidupan sosial saat itu. Namun, di sisi positif, kualitas udara telah meningkat secara substansial dan lebih sedikit orang yang terkena penyakit pernapasan.

Di daerah Tropis, konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur di kota-kota besar dan kota-kota menjadi lebih sulit karena suhu siang hari sering melebihi ambang batasĀ  aman untuk bekerja di luar. Permintaan listrik untuk pendingin udara memberi tekanan lebih besar dan lebih besar pada persediaan yang ada.

Harus kami akui bahwa kamilah (manusia) yang bertanggung jawab atas melonjaknya kenaikan suhu sejak tahun 1950-an dan kerusakan-kerusakan terjadi dimassa lalu dan massa depan. Semakin kita tahu, semakin kita dihadapkan dengan kenyataan tidak nyaman ini. Ada tidaknya kita, umat manusia dibumi, juga tidak akan berpengaruh banyak bagi bumi yang tetap hijau, laut yang tetap bersih, udara yang tetap sejuk nan bersih, hutan yang rindang dan kehidupan yang haromonis dan hegemonis antar alam dan mahluknya. Sebenarnya kerusakan-kerusakan yang telah ada dan akan datang bisa menjadikan kita lebih tertantang untuk menyelesaikan apa yang ditimbulkan perubahan ikilim dari pada yang kita pikirkan sebelumnya.

Referensi:

https://scied.ucar.edu/longcontent/predictions-future-global-climate#:~:text=Predictions%20of%20Future%20Global%20Climate,will%20rise%20in%20the%20future.&text=During%20the%2021st%20Century%2C%20various,%C2%B0%20and%207.2%C2%B0%20F).

https://sustainabledevelopment.un.org/sdg13