EKOWISATA PINTAR BERBASIS KONSERVASI

Kemandirian ekonomi tak luput dari keterampilan masyarakat dalam mengelola keuangan. Sektor ekowisata adalah salah satunya. Adapun konsep ekoswisata pintar yang menawarkan alternatif untuk melestarikan sumber daya alam dan meningkatkan perekonomian masyarakat

oleh Agtha Desya Pratitah

Universitas Gadjah Mada/agthadp@gmail.com

Konservasi sebagaima dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya  merupakan suatu pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa konservasi dapat membawa rezeki dalam jangka panjang dan akan menjadi malapetaka yang merugikan sekaligus tidak mudah untuk diselesaikan apabila diabaikan. Dewasa ini, konservasi dapat menjadi cara jitu untuk tetap melestarikan alam sekaligus membangun perekonomian masyarakat. Cara tersebut sudah mulai diterapkan di berbagai negara termasuk Indonesia melalui kegiatan ekowisata. Ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam, mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat, sekaligus memberi manfaat ekonomi (Sastrayuda, 2010). 

Penilaian terhadap manfaat ekonomi tidak saja ditujukan pada nilai yang langsung dapat dihitung, tetapi termasuk juga yang tidak memiliki nilai pasar (non-market value) berupa nilai fungsi ekologis serta keuntungan yang tidak langsung lainnya. Nilai (value) adalah esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia (Soemarwoto, 2004). Nilai tersebut sejatinya memiliki kaitan dengan istilah valuasi yang berkaitan dalam pembangunan konsep dan metodologi untuk menduga nilai barang dan jasa. Valuasi ekonomi bertujuan untuk memberikan nilai ekonomi terhadap sumber daya yang digunakan sesuai dengan nilai riil menurut sudut pandang masyarakat, pengelolaan, dan pemanfaatan potensi sumber daya alam dalam bentuk jasa lingkungan yang mempunyai nilai manfaat atau memberikan keuntungan bagi kehidupan manusia (Winara, 2010). Bentuk dari nilai jasa lingkungan dibagi ke dalam 4 kategori, yaitu (1) perlindungan dan pengaturan tata air, (2) konservasi keanekaragaman hayati, (3) penyediaan keindahan bentang alam (jasa lingkungan ekowisata), dan (4) penyerapan serta penyimpanan karbon. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa bukan tidak mungkin jika konservasi memiliki kaitan erat dengan perekonomian. 

Menurut Mackinnon (1990) dalam Qomariah (2009), keberhasilan pengelolaan konservasi khususnya ekowisata banyak bergantung pada kadar dukungan dan penghargaan yang diberikan kepada kawasan yang dilindungi oleh masyarakat disekitarnya. Pengembangan ekowisata juga tidak terlepas dari campur tangan masyarakat dan pada akhirnya masyarakat tersebut yang akan menikmati hasil dan manfaat dari ekowisata itu sendiri. Maka untuk melancarkan kegiatan ekowisata memerlukan pemberdayaan masyarakat lokal dalam kegiatan ekowisata yang berbasis konservasi agar kelestarian sumber daya alam yang ada pada daerah tersebut dapat terus dijaga. Pemberdayaan masyarakat lokal dalam kegiatan ekowisata bertujuan untuk melestarikan sumber daya alam dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Langkah awal yang dapat dilakukan yaitu melalui kegiatan sosialisasi yang dimaksudkan untuk mengedukasi masyarakat mengenai manfaat positif dari ekowisata dan pentingnya upaya konservasi. 

Salah satu konsep ekowisata yang tepat digunakan saat ini yaitu Ekowisata Pintar. Mengingat tren pariwisata yang semakin meningkat namun belum semua masyarakatnya terberdayakan. Ekowisata Pintar menawarkan alternatif baru bagi peningkatan ekowisata untuk mendobrak perekonomian lokal maupun nasional yang berangkat dari kemandirian masyarakat khususnya masyarakat yang jauh dari perkotaan ataupun masyarakat sekitar hutan. Masyarakat tersebut hidup berdampingan dengan kekayaan alam yang masih alami namun belum ada pendampingan dan pembinaan khusus yang tidak hanya bertumpu pada peningkatan ekonomi, namun juga peningkatan kemampuan (skill) yang mumpuni dari masing-masing individu. Pendekatan Ekowisata Pintar berupaya membantu masyarakat mencapai keseimbangan rasional antara keberlanjutan lingkungan hidup dengan pembangunan ekonomi jangka panjang. Sedangkan tujuan utamanya terfokus pada upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini pemandu ekowisata yang merupakan ujung tombak dalam perjalanan wisata. Ekowisata Pintar dapat diwujudkan dalam bentuk program pengembangan terintegrasi yang memadukan penggunaan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) berbasis serat optik, kegiatan ekonomi produktif, kegiatan ekonomi kreatif, dan peningkatan pelestarian lingkungan. Teknik pengembangan Ekowisata Pintar dapat dilakukan dengan cara merangkul stakeholder pariwisata, meliputi Academician, Business, Community, Government, dan Media (ABCGM). Selain itu terdapat 3 unsur yang tidak boleh diabaikan untuk menjamin berlangsungnya Ekowisata Pintar yaitu atraksi, amenitas, dan aksesibilitas.

Berbagai tujuan, program, teknik, dan unsur dalam konsep Ekowisata Pintar tersebut dapat dipraktekkan langsung oleh masyarakat dengan sikap terbuka. Kemampuan awal yang harus dimiliki masyarakat yaitu menjadi tuan rumah yang bisa mengharumkan nama baik kawasan yang dihuninya. Contoh bentuk penerapannya berupa peningkatan dalam unsur amenitas pariwisata berupa penginapan, WC umum, pos pertolongan pertama, mushola dan toko souvenir. Amenitas menurut Peter (2008) merupakan fasilitas untuk memperoleh kesenangan. Dalam hal ini  dapat berbentuk akomodasi, kebersihan, dan keramahtamahan. Kelengkapan amenitas bisa memberikan keuntungan atau manfaat bagi masyarakat ataupun wisatawan. Masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan. Sementara itu, manfaat yang didapatkan oleh wisatawan adalah kesempatan langsung untuk belajar tentang budaya masyarakat setempat. Keduanya saling tukar-menukar informasi dan saling mengenal satu sama lain sehingga dapat menumbuhkan toleransi serta pemahaman akan adat istiadat masing-masing. Hal yang perlu diperhatikan yaitu budaya wisatawan yang terkadang berbeda dengan budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, sangat diharapkan agar masyarakat mengadopsi hal-hal positif dan mengabaikan hal-hal negatif yang berasal dari wisatawan. 

Fasilitas yang ada pada kawasan ekowisata juga perlu didukung dengan aksesibilitas yang memadai. Aksesibilitas dalam pariwisata merupakan upaya wisatawan dalam mencapai suatu objek wisata (Mill, 2000). Wisatawan akan memperhatikan kondisi jalan yang akan dilalui, jarak dan waktu tempuh, pilihan transportasi yang tersedia serta biaya yang dikeluarkan ketika menuju objek wisata. Setiap kawasan ekowisata yang memiliki potensi wisata tentu akan memaksimalkan fasilitas pendukung salah satunya alat transportasi untuk mengoptimalkan pengembangan objek wisatanya. Alat transportasi dapat berupa angkutan umum yang akan memudahkan mobilitas wisatawan dan keekonomisan biaya. Dengan adanya akses yang mudah dan lancar serta komparatif terhadap biaya kunjungan wisata, maka akan menjadi daya tarik tersendiri dalam memudahkan mobilitas para wisatawan yang ingin berkunjung ke lokasi wisata tersebut. Dalam konsep Ekowisata Pintar diharapkan masyarakat dapat berinovasi menyediakan alat transportasi berupa paket transportasi bus, jeep, sepeda kayuh, maupun penyewaan alat transportasi lain yang mendukung kenyamanan wisatawan dalam menikmati kegiatan wisata.

Langkah yang perlu diterapkan berikutnya yakni pemberian kesempatan kepada anggota masyarakat untuk menjadi pemandu atau pendamping secara langsung bagi wisatawan. Seringkali terdapat keterbatasan masyarakat dalam menggunakan bahasa asing khususnya Bahasa Inggris, sehingga Ekowisata Pintar hadir untuk memberi pelatihan kepada masyarakat agar dapat berkomunikasi dengan baik kepada wisatawan asing. Pelatih dapat berasal dari pemerintah maupun stakeholder lain, misalnya LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Kemampuan dasar masyarakat dalam berbahasa Inggris merupakan modal awal dalam menjadikan lokasi tempat mereka tinggal sebagai kawasan ekowisata, karena pada akhirnya kawasan tersebut tidak hanya akan dikunjungi oleh wisatawan domestik melainkan juga mancanegara. Dalam hal ini, pelatihan dapat dilakukan dalam waktu yang singkat namun diharapkan selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapannya dapat diwujudkan dengan cara memberlakukan English Area untuk anak-anak sekolah dasar hingga orang dewasa. Cara ini diduga efektif untuk mewujudkan konsep Ekowisata Pintar.

Hal yang perlu ditingkatkan selanjutnya yaitu keterampilan pemasaran yang berhubungan erat dengan kegiatan promosi. Memperkenalkan atau mempromosikan suatu lokasi sebagai kawasan ekowisata merupakan agenda penting yang harus dijalankan. Kegiatan promosi perlu dilakukan lebih luas tidak hanya dari mulut ke mulut tapi dapat dilakukan melalui berbagai media. Kegiatan promosi tersebut dapat berupa penyebaran melalui media cetak maupun media elektronik, leaflet, poster maupun spanduk, pembaharuan informasi di website tiap waktu, serta menjalin kerjasama dan koordinasi yang baik dengan biro-biro perjalanan. Khusus di era milenial ini, masyarakat bisa bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang menyediakan layanan pemesanan tiket transportasi maupun penginapan secara daring. Di era ini masyarakat dimudahkan dalam menjalin kerjasama secara online. Perlu adanya pembinaan dalam mengoperasikan alat komunikasi modern agar mengurangi tingkat kebutaan terhadap teknologi atau sering disebut dengan gagap teknologi yang saat ini masih berlangsung di Indonesia, khususnya di daerah terpencil yang justru memiliki kekayaan alam luar biasa. Minimal ada orang-orang tertentu yang sudah bisa ataupun telah diberi kepercayaan untuk mengajarkan keterampilan ini, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan teknis dapat langsung ditangani. Program pelatihan diberikan bagi masyarakat yang memiliki ataupun tidak memiliki alat untuk mengakses internet, sehingga dalam hal ini program dijalankan secara holistik tanpa membedakan kalangan masyarakat tertentu. Apabila sudah ada masyarakat yang memiliki gadget sendiri, maka akan dibimbing untuk dapat menggunakan aplikasi tertentu. Sedangkan masyarakat yang tidak memiliki gadget akan diberi fasilitas berupa laptop atau komputer beserta Wi-Fi yang dapat digunakan untuk mengakses internet secara massal. Wi-Fi ini perlu dihibahkan dari pemerintah kepada masyarakat, namun untuk pembayaran per bulannya dapat dikoordinir oleh kelompok masyarakat itu sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan tanggung jawab serta kemandirian mereka sebagai warga negara Indonesia. 

Sementara itu, kemandirian ekonomi tak luput dari keterampilan masyarakat dalam mengelola keuangan. Keuangan merupakan hal yang sangat sensitif pada suatu organisasi, bahkan organisasi kecil sekalipun. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan sebaiknya dilakukan secara terbuka dengan membuat laporan keuangan tiap bulan agar terjalin sikap saling percaya antar elemen masyarakat. Setiap penerimaan maupun pengeluaran dicatat dan dilaporkan ketika rapat ataupun pertemuan bersama. Dana yang terkumpul nantinya dapat dikelola untuk pengembangan atau perbaikan sarana dan prasarana pada lokasi tersebut.

Begitu juga dengan peningkatan sosial budaya. Usaha ini dapat dilakukan dengan cara mengadakan even berupa festival, pameran, dan perlombaan. Hasil kerajinan dapat dijual sebagai produk lokal dan didistribusikan hingga ke mancanegara melalui even-even tersebut. Hal-hal semacam ini dikembangkan, diorganisir, dan disediakan fasilitasnya dalam Ekowisata Pintar sehingga mampu menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Even merupakan bentuk dari atraksi wisata. Menurut Yoeti Oka (2005), atraksi wisata adalah sesuatu yang dapat dilihat atau disaksikan melalui suatu pertunjukan yang khusus diselenggarakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan. Oleh karena itu, atraksi wisata memiliki arti yang berbeda dengan objek wisata, karena pengertian objek wisata sendiri yaitu sesuatu yang dapat dilihat atau disaksikan di tempat wisata tanpa membayar (dalam konteks ini yang dimaksud adalah pemandangan alam).

Objek wisata merujuk pada keindahan lanskap yang terbentuk secara alami maupun buatan di suatu daerah tertentu. Keindahan alam tersebut tentunya akan dapat bertahan apabila masyarakat tetap menjaga keutuhan lanskap dan tidak melakukan tindak pencemaran lingkungan di area wisata. Perlu dilakukan upaya mitigasi  untuk mencegah terjadinya bencana alam yang timbul karena proses alami maupun ulah manusia. Ekowisata Pintar menawarkan alternatif berupa pemasangan alat pendeteksi  bencana, pemberdayaan mengenai pengolahan sampah maupun limbah dengan baik dan benar, serta pemakaian alat rumah tangga yang ramah lingkungan. Pemasangan alat pendeteksi bencana disesuaikan dengan risiko bencana yang dimungkinkan terjadi di daerah tertentu. Kemudian untuk pengolahan sampah khususnya organik dapat digunakan sebagai pupuk organik guna menyuburkan tanah dan menanam bibit pohon. Sedangkan sampah non organik dapat dipilah terlebih dahulu, lalu dijual kembali ke pengepul sampah untuk didaur ulang. Pengolahan sampah tersebut juga perlu didukung oleh kegiatan mengurangi konsumsi plastik secara berlebihan. Masyarakat dapat mengganti plastik dengan bahan ramah lingkungan.

Ekowisata memberikan banyak peluang untuk memperkenalkan kepada wisatawan tentang pentingnya perlindungan alam dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal. Pada saat menikmati keindahan bentang alam di suatu lokasi, wisatawan juga secara langsung dapat mengenal flora dan fauna serta budaya masyarakat, sehingga dapat menambah pengetahuan sekaligus memberikan kepuasan terhadap pemandangan yang ada. Edukasi tentang etika dan budaya masyarakat setempat juga perlu dituangkan dan diikuti oleh wisatawan selama berada pada wilayah ekowisata.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa saat ini tren berwisata sudah bergeser menjadi kegiatan ekowisata yang memadukan teknologi sekaligus linier dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Pergeseran tren tersebut dapat dimaksimalkan dan diantisipasi kerugiannya melalui konsep baru yaitu Ekowisata Pintar yang berbasis konservasi. Konservasi bukan hanya memiliki nilai terhadap lingkungan, namun juga dapat bernilai ekonomi apabila tetap dijaga kelestariannya. Seperti yang kita ketahui, bahwa saat ini telah masuk pada era milenial, dimana teknologi sudah semakin maju, persaingan ekonomi semakin sengit, sehingga tekanan dalam mendapatkan penghasilan semakin tinggi. Sektor pariwisata khususnya yang menyuguhkan keindahan alam juga semakin ditingkatkan untuk tujuan refreshing bersama teman, keluarga, dan sanak saudara. Apabila tidak diimbangi dengan keunggulan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang mumpuni, maka Indonesia tidak akan siap dan memiliki kekuatan untuk menjadi negara maju di era milenial ini. Konsep Ekowisata Pintar yang berbasis konservasi hadir untuk menyelamatkan alam sekaligus meningkatkan kualitas SDM dan perekonomian masyarakat.

Daftar Pustaka

ISBN 978-602-6672-41-4. 

Mill, Robert Christine. 2000. Tourism The International Bussiness. PT. Grafindo Persada. Jakarta.

Peter, M. 2008. Tourism Impacts, Planning and Management, Second Edition. Elsevier Ltd.

Qomariah L. 2009. Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Meru Betiri (Studi Kasus Blok rajegwesi SPTN I Sarongan). Skripsi. Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. 

Rachman, Maman. 2012. Konservasi Nilai dan Warisan Budaya. Indonesian Journal of Conservation. 1(1): 30-39. 

Sastrayuda, G. S. 2010. Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Resort and Leisure. STBA-YAPARI-ABA. Bandung.

Soemarwoto, Otto. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan. Jakarta.

Standar Nasional Indonesia (SNI 8013:2014). 

Supriadi B, Nafi M., dan Roedjinandari N. 2017. Pengembangan Ekowisata Daerah. Buku Bunga Rampai Tahun 2017. Universitas Merdeka Malang. 

Undang-Undang Republik Indonesia No. 05 Tahun 1990

Wahyudin, Agus dan DYP Sugiharto. 2010. Unnes Sutera: Pergulatan Pikir Sudijono Sastroatmodjo Membangun Sehat, Unggul, Sejahtera. Unnes Press. Semarang. 

Winara, A., H.Warsito, Z.L. Rumawak, N Indouw. 2010. Valuasi potensi dan manfaat Taman nasional di Papua. Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian Kehutanan Manokwari. Badan Litbang Kehutanan. Kementerian Kehutanan.

 Yoeti, O. A. 2005. Perencanaan Strategi Pemasaran Daerah Tujuan Wisata. PT. Pradnya Paramita. Jakarta. 

Default image
kophiyogya
Articles: 29

Leave a Reply